Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Transformasi Politik dari Gerakan Bersenjata Menjadi Partai Politik Lokal Aceh

Abstract

Temuan dari penelitian, pertama, konflik di Aceh mempunyai latar belakang yang panjang (DI/ TII, GAM, DOM) yang bermuara dengan adanya MoU Helsinki 2005, yang melahirkan kebijakan Otonomi Khusus dan memberikan wewenang berupa pembentukan partai politik lokal Aceh. Kebijakan dari pemerintah pusat ini merupakan wujud dari proses transformasi politik (dari gerakan bersenjata menjadi partai politik lokal Aceh). Kedua, dalam perkembangannya, Partai politik lokal Aceh belum secara maksimal berkontribusi untuk kemajuan masyarakat Aceh khususnya dalam bidang ekonomi dan politik. Dalam bidang politik, secara empiris elite yang berada dalam partai politik lokal Aceh terlibat korupsi bantuan sosial, interen eks kombatan partai lokal dalam pemilihan kepala daerah melakukan intimidasi terhadap sebagian masyarakat Aceh. Kemudian ada kasus salah satu mantan anggota GAM yang bernama Din Minimi, karena tidak menerima dana kompensasi melakukan pemberontakan terhadap elite GAM yang duduk di pemerintahan. Kesimpulan penelitian transformasi politik dari Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menjadi partai politik lokal Aceh belum menyentuh pada kepentingan masyarakat Aceh secara menyeluruh.
Keywords
  • Free Aceh Movement
  • Helsinki MoU
  • Special Autonomy
  • Political Transformation
  • Aceh Local Political Party
How to Cite
Andriyani, S. (2017). Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Transformasi Politik dari Gerakan Bersenjata Menjadi Partai Politik Lokal Aceh. Jurnal ISIP: Jurnal Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, 14(1), 13–24. https://doi.org/10.36451/jisip.v14i1.574
References
  1. Bungin, Burhan, 2007, Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya, Jakarta: Kencana.
  2. Basyar, Hamdan, 2008, Aceh Baru: Tantangan Perdamaian dan Reintegrasi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  3. Creswell, John W, Desain Penelitian, Pendekatan Kualitatif & Kuantitatif, Jakarta: KIK Press, 2002.
  4. Heywood, Andrew, 2014, Politik, Edisi Ke- 4, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  5. Irawan, Prasetya, 2006, Penelitian Kualitatif & Kuantitatif untuk Ilmu-Ilmu Sosial, Departemen Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
  6. J. Goodman, Douglas & Ritze, George, 2007, Teori Sosiologi Modern,Edisi Ke-6 Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
  7. Nurhasim, Moch. Dkk. 2003, Konflik Aceh: Analisis Atas Sebab-sebab Konflik, Aktor Konflik, Kepentingan dan Upaya Penyelesaian, Jakarta: Proyek Pengembangan Riset Unggulan/ Kompetitif LIPI.
  8. Nurhasim, Moch, 2008, Konflik Dan Intergrasi politik Gerakan Aceh Merdeka: Kajian Tentang Konsensus Normatif Antara RI-GAM Dalam Perundingan Helsinki, Jakarta: P2P LIPI.
  9. Pi ga y, Dec ki Na t a l i s, 2000, E v ol usi Nasionalisme Dan Sejarah Konflik Politik di Papua (Sebelum, Saat dan Sesudah Integrasi), Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
  10. Rakmad, Fadli Zain, 2009, Transformasi Politik Gerakan Aceh Merdeka Menjadi Partai Aceh (Dalam Proses Perdamaian). Skripsi UI.
  11. Symporosa Wilibald Rembe, 2005, The Politic of Transformation In South Africa : An Evaluation of Education policies And Their Implementation with Particular Reference To The Eastern Cape Province, Rhodes University.
  12. Syamsudi, Nazarudin, 1998, Revolusi Di Serambi Mekkah, UI Press.
  13. Fitriyasni, 2010, Peluang Dan Kendala Politisi Perempuan Dalam Partai Politik Lokal Aceh, Tesis UI.